Soal Literasi AKM vs Soal Bahasa Indonesia Sekolah: Kenapa Institusi Perlu Melihat Dua-duanya
Tim Produk Lesan
22 Oktober 2026
Banyak sekolah dan bimbel memperlakukan soal literasi AKM dan soal Bahasa Indonesia sekolah (ujian harian, PTS, PAS) sebagai dua hal yang bisa disiapkan dengan cara yang sama — toh keduanya sama-sama "soal Bahasa Indonesia". Dalam praktiknya, kedua jenis soal ini mengukur hal yang cukup berbeda, dan institusi yang hanya fokus ke salah satunya berisiko punya gambaran yang tidak lengkap tentang kesiapan literasi siswanya.
Fokus yang Berbeda di Balik Nama yang Terdengar Sama
Soal AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) dirancang untuk mengukur kompetensi literasi secara lebih umum — kemampuan memahami, menggunakan, merefleksikan berbagai jenis teks (bukan terbatas pada karya sastra atau teks yang ada di buku pelajaran tertentu), sering dengan format stimulus teks yang cukup panjang dan pertanyaan yang menuntut penalaran, bukan sekadar mengingat isi teks.
Soal Bahasa Indonesia sekolah, sebaliknya, biasanya lebih terikat ke kurikulum dan materi yang sudah diajarkan di kelas — bisa mencakup tata bahasa, unsur intrinsik cerita yang sudah dibahas di kelas, kaidah penulisan, atau pemahaman teks yang memang jadi bahan ajar semester itu. Soal semacam ini lebih menguji penguasaan materi yang diajarkan, dibanding kompetensi literasi umum yang bisa diterapkan pada teks apa pun.
Siswa Bisa Kuat di Satu Sisi tapi Lemah di Sisi Lain
Karena fokusnya berbeda, siswa yang nilai ulangan Bahasa Indonesia sekolahnya bagus tidak otomatis berarti kompetensi literasinya untuk soal model AKM juga kuat, dan sebaliknya. Seorang siswa bisa sangat menguasai materi yang diajarkan di kelas — hafal unsur intrinsik cerpen, paham kaidah kebahasaan yang diujikan — tapi kesulitan begitu dihadapkan pada teks asing dengan pertanyaan yang menuntut interpretasi dan evaluasi mandiri, seperti yang umum di soal AKM.
Begitu juga sebaliknya: siswa yang terbiasa membaca luas dan bisa menjawab soal literasi umum dengan baik belum tentu menguasai detail materi kurikulum sekolah yang memang perlu dihafal atau dipahami secara spesifik untuk ujian sekolah.
Kenapa Melihat Hanya Satu Sisi Berisiko Menyesatkan
Institusi yang hanya memantau nilai ujian sekolah berisiko terlambat menyadari kelemahan literasi umum siswanya, karena nilai bagus di ujian sekolah bisa memberi rasa aman yang keliru menjelang AKM. Sebaliknya, institusi yang hanya fokus ke tryout model AKM berisiko mengabaikan kebutuhan siswa untuk tetap menguasai materi kurikulum yang tetap jadi dasar penilaian sekolah dan kelulusan.
Kedua sisi ini punya konsekuensi berbeda bagi siswa — nilai ujian sekolah berpengaruh ke rapor dan kenaikan kelas, sementara skor AKM berpengaruh ke evaluasi kualitas satuan pendidikan dan pemetaan capaian kompetensi minimum siswa secara nasional. Institusi yang serius mendampingi siswa perlu memastikan keduanya terpantau, bukan menganggap salah satunya cukup mewakili yang lain.
Menstrukturkan Bank Soal agar Bisa Melihat Keduanya Sekaligus
Tantangan praktisnya adalah mengelola dua jenis soal dengan karakter berbeda tanpa membuat dua sistem terpisah yang tidak saling terhubung. Pendekatan yang lebih realistis: bank soal ditandai bukan hanya berdasarkan sumbernya (AKM atau ujian sekolah), tapi juga berdasarkan kompetensi literasi yang diuji di dalamnya. Sebuah soal AKM tentang menyimpulkan teks informasi dan sebuah soal ujian sekolah yang juga menuntut kesimpulan dari sebuah cerpen sebenarnya menguji kompetensi yang cukup dekat, meski formatnya berbeda.
Di Lesan, tagging kompetensi di bank soal memungkinkan institusi melihat lintas kedua jenis soal ini dalam satu peta kompetensi yang sama. Sistem asesmen literasi yang dirancang dengan tagging seperti ini memungkinkan laporan yang menunjukkan, misalnya, bahwa seorang siswa kuat di kompetensi menyimpulkan pada konteks soal sekolah tapi belum terbukti kuat pada format stimulus AKM yang lebih panjang dan asing — informasi yang tidak akan terlihat kalau kedua jenis soal ini dilaporkan sepenuhnya terpisah tanpa kerangka kompetensi yang menjembatani.
Menyusun Program Persiapan yang Menyeimbangkan Keduanya
Setelah peta kompetensi lintas kedua jenis soal ini tersedia, institusi bisa menyusun program yang lebih seimbang — bukan memilih salah satu antara "fokus ujian sekolah" atau "fokus AKM", tapi mengidentifikasi kompetensi literasi inti yang sebenarnya relevan untuk keduanya, sambil tetap memberi porsi latihan khusus untuk format soal yang berbeda karakter (misalnya stimulus teks panjang khas AKM yang jarang muncul di soal ujian harian).
Rencana belajar yang dihasilkan dari peta kelemahan semacam ini, setelah ditinjau dan disetujui guru, bisa mencampur latihan dari kedua sumber soal sesuai kompetensi yang memang perlu diperkuat siswa — bukan mengulang paket latihan generik yang sama untuk semua siswa terlepas dari profil kelemahan masing-masing.
Komunikasi ke Orang Tua: Dua Ukuran, Dua Konteks
Orang tua sering bertanya kenapa anaknya nilai rapor Bahasa Indonesianya bagus tapi hasil tryout AKM-nya biasa saja, atau sebaliknya. Menjelaskan bahwa kedua ukuran ini memang mengukur hal yang tidak identik — satu terikat kurikulum sekolah, satu mengukur kompetensi literasi yang lebih umum — membantu orang tua memahami bahwa keduanya bukan kontradiksi, melainkan dua sisi gambaran yang saling melengkapi tentang kemampuan literasi anak mereka.
Bagi institusi, kesimpulan praktisnya sederhana: menyiapkan siswa untuk salah satu jenis soal saja bukan strategi yang lengkap. Literasi yang benar-benar kuat perlu terlihat konsisten baik di konteks kurikulum sekolah maupun di konteks soal literasi umum seperti AKM — dan itu hanya bisa dipastikan kalau institusi memang mengukur keduanya, bukan menebak dari salah satu.

Tim Produk Lesan
Product Team
Tim yang membangun dan merawat Lesan — infrastruktur pembelajaran bertenaga AI untuk bimbel, sekolah, dan lembaga pelatihan.