Riset & Data Pendidikan

Numerasi dalam AKM vs Matematika Sekolah: Kenapa Institusi Perlu Melihat Keduanya

Tim Produk Lesan

Tim Produk Lesan

17 September 2026

Ada institusi yang menganggap nilai matematika sekolah sudah cukup mewakili kemampuan numerasi siswa — logikanya, kalau nilai matematikanya bagus, tentu numerasinya juga bagus. Asumsi ini masuk akal secara sepintas, tapi tidak sepenuhnya tepat, karena numerasi dalam kerangka Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan matematika sekolah sebenarnya mengukur hal yang cukup berbeda, meski sama-sama berhubungan dengan angka dan bilangan.

Data dari Rapor Pendidikan Kemendikdasmen — yang dirilis Puslapdik — menunjukkan bahwa proporsi murid yang mencapai kompetensi minimum numerasi memang meningkat cukup signifikan: dari 45,24% pada 2022, menjadi 62,45% pada 2023, dan 67,94% pada 2024. Tren ini positif secara nasional, tapi angka agregat semacam ini tidak menjawab pertanyaan yang lebih penting untuk satu institusi: apakah siswa yang nilai matematika sekolahnya bagus juga otomatis kuat secara numerasi dalam kerangka AKM? Jawabannya tidak selalu.

Numerasi AKM Mengukur Penerapan, Matematika Sekolah Sering Mengukur Prosedur

Matematika sekolah, terutama dalam bentuk ulangan dan ujian rutin, sering menguji kemampuan siswa mengikuti prosedur yang sudah diajarkan — menyelesaikan persamaan dengan langkah yang sudah dilatih, menghitung dengan rumus yang sudah dihafal. Ini penting dan valid sebagai bagian dari penguasaan matematika, tapi berbeda dari numerasi dalam kerangka AKM, yang lebih menekankan kemampuan menerapkan konsep bilangan dan pola dalam konteks kehidupan sehari-hari atau situasi yang tidak selalu familiar — membaca dan menafsirkan data dari grafik yang tidak standar, menaksir dan menalar dengan bilangan dalam situasi praktis, atau menilai kewajaran suatu angka dalam konteks tertentu.

Siswa yang terlatih baik secara prosedural — kuat mengikuti langkah-langkah standar — bisa saja kesulitan begitu soal numerasi disajikan dengan konteks yang tidak familiar atau formatnya berbeda dari soal ulangan biasa. Sebaliknya, ada juga siswa yang nilai ulangan matematikanya biasa-biasa saja karena kurang terlatih di prosedur tertentu, tapi punya penalaran numerasi yang cukup kuat begitu dihadapkan pada konteks praktis.

Kenapa Melihat Salah Satu Saja Berisiko Menyesatkan

Institusi yang hanya melihat nilai matematika sekolah berisiko salah menyimpulkan kesiapan numerasi siswanya untuk AKM — bisa terlalu percaya diri kalau nilai matematika bagus tapi ternyata numerasinya lemah di aspek penerapan konteks, atau sebaliknya, terlalu cemas pada siswa yang nilai matematikanya biasa padahal penalaran numerasinya sebenarnya cukup baik.

Sebaliknya, institusi yang hanya fokus pada latihan soal bertipe AKM tanpa memperhatikan penguasaan prosedural matematika sekolah juga berisiko: siswa bisa jadi cukup baik menalar situasi praktis tapi masih lemah di operasi dan konsep matematika dasar yang jadi fondasi untuk topik-topik lanjutan di sekolah.

Melihat Dua-duanya Sekaligus, Bukan Bergantian

Cara yang lebih realistis adalah melihat kedua jenis kompetensi ini secara bersamaan, bukan menganggap salah satu bisa mewakili yang lain. Ini berarti assessment yang dijalankan institusi idealnya mencakup soal-soal bergaya matematika sekolah (prosedural, sesuai kurikulum) dan soal-soal bergaya AKM (kontekstual, penerapan), dengan hasil keduanya dilihat berdampingan — bukan dicampur jadi satu skor gabungan yang menyembunyikan perbedaan di antaranya.

Di Lesan, struktur kompetensi bertingkat memungkinkan penandaan yang membedakan jenis soal semacam ini — sebuah kompetensi bisa ditandai baik sebagai bagian dari kurikulum matematika sekolah maupun sebagai indikator numerasi AKM, atau keduanya sekaligus kalau memang relevan. Ini membuat laporan hasil assessment bisa menunjukkan dua gambaran secara terpisah: profil penguasaan matematika sekolah, dan profil kesiapan numerasi gaya AKM — sehingga guru bisa melihat apakah ada kesenjangan antara keduanya pada siswa tertentu.

Numerasi Bukan Mapel Terpisah, tapi Lensa Tambahan

Penting dipahami bahwa numerasi dalam kerangka AKM bukan dimaksudkan sebagai mata pelajaran baru yang berdiri sendiri di luar matematika sekolah. Numerasi lebih tepat dilihat sebagai lensa tambahan untuk melihat kompetensi bilangan siswa — sejauh mana mereka bisa menerapkannya di luar konteks soal yang familiar. Karena itu, institusi tidak perlu membangun dua sistem penilaian yang sepenuhnya terpisah; yang dibutuhkan lebih ke soal memastikan bank soal yang dipakai mencakup kedua gaya soal ini, dan hasilnya dilaporkan dengan cara yang memisahkan kedua aspek tersebut secara jelas.

Pendekatan semacam ini juga lebih realistis dari sisi beban kerja guru dibanding menjalankan dua rangkaian assessment yang benar-benar independen. Satu rangkaian assessment yang dirancang dengan baik, dengan soal-soal yang ditandai ke dua jenis kompetensi sekaligus, bisa memberi kedua gambaran itu tanpa menggandakan beban administratif.

Menyusun Rencana Latihan yang Menyeimbangkan Keduanya

Kalau kesenjangan antara kedua profil ini terdeteksi — misalnya siswa kuat secara prosedural tapi lemah di penerapan kontekstual — rencana latihan yang paling relevan bukan sekadar memperbanyak salah satu jenis soal, tapi menyeimbangkan keduanya sesuai kebutuhan spesifik siswa tersebut. Sistem bisa membantu menyusun draf rencana latihan yang mencakup kedua jenis soal berdasarkan pola kesenjangan yang terdeteksi, tapi keputusan final tentang komposisi dan penekanan latihan tetap ada di tangan guru, yang memahami konteks siswa dan target institusi secara lebih menyeluruh.

Tren nasional numerasi yang terus naik, seperti yang tercatat Puslapdik Kemendikdasmen, adalah kabar baik dalam skala besar. Tapi bagi institusi, kabar baik nasional itu paling berguna kalau diterjemahkan menjadi pertanyaan yang lebih spesifik: apakah siswa kami, secara individual, memang kuat di kedua sisi — prosedural dan kontekstual — atau ada kesenjangan yang selama ini tidak terlihat karena hanya salah satu sisi yang rutin diukur.

Tim Produk Lesan

Tim Produk Lesan

Product Team

Tim yang membangun dan merawat Lesan — infrastruktur pembelajaran bertenaga AI untuk bimbel, sekolah, dan lembaga pelatihan.