Skenario: Siswa Mengeluh Soal Latihan Tidak Relevan dengan Kelemahannya
Tim Produk Lesan
24 Oktober 2026
"Kenapa saya dikasih soal aljabar terus, Pak? Saya kan sudah kuat di situ, yang susah malah soal cerita pecahan." Keluhan seperti ini sering muncul di bimbel yang masih memakai paket latihan seragam — satu paket soal yang sama dibagikan ke seluruh kelas, tanpa mempertimbangkan bahwa tiap siswa punya profil kelemahan yang berbeda-beda, bahkan di kelas yang levelnya dianggap setara.
Dari sudut pandang guru, menyusun paket latihan seragam adalah pilihan yang masuk akal secara operasional — jauh lebih praktis membuat satu set soal untuk 30 siswa daripada menyusun 30 paket berbeda secara manual. Tapi dari sudut pandang siswa, hasilnya sering terasa membuang waktu: mengerjakan soal untuk kompetensi yang sudah dikuasai, sementara kompetensi yang benar-benar lemah tidak cukup dilatih.
Kenapa Latihan Generik Merugikan Dua Sisi Sekaligus
Masalah latihan seragam bukan cuma soal efisiensi waktu siswa yang kuat. Siswa yang lemah juga dirugikan dengan cara berbeda: kalau paket soal disusun untuk "rata-rata kelas", siswa yang jauh tertinggal di satu kompetensi spesifik sering tidak mendapat porsi latihan yang cukup untuk kompetensi itu, karena paketnya sudah keburu bergerak ke topik lain sesuai jadwal kurikulum umum.
Hasil akhirnya, siswa kuat merasa waktunya terbuang untuk mengulang yang sudah bisa, siswa lemah merasa tidak cukup dibantu di titik yang justru paling dibutuhkan — dan keduanya sama-sama punya alasan untuk mengeluh, walaupun keluhannya terdengar berlawanan.
Latihan yang Disusun dari Peta Kelemahan Masing-masing
Di Lesan, sesi latihan siswa tidak disusun dari satu paket seragam untuk seluruh kelas, tapi dibangun dari peta kelemahan individual tiap siswa — hasil identifikasi AI dari pola jawaban siswa di ujian dan latihan sebelumnya, yang kemudian menjadi dasar rencana belajar personal. Rencana ini tidak langsung dijalankan begitu saja, tapi melalui alur persetujuan guru terlebih dahulu — guru bisa meninjau, mengedit, atau menolak rekomendasi sebelum sesi latihan itu benar-benar tampil ke siswa.
Dengan begitu, dua siswa di kelas yang sama bisa mendapat sesi latihan dengan komposisi soal yang berbeda sama sekali, tergantung kompetensi mana yang menurut data masing-masing perlu diperkuat. Siswa yang sudah kuat di aljabar tidak akan terus-menerus diberi soal aljabar hanya karena itu materi minggu ini di kurikulum kelas — porsi latihannya bergeser ke kompetensi yang datanya menunjukkan masih lemah.
Guru Tetap Jadi Penjaga Kualitas, Bukan Sekadar Penonton
Bagian yang penting dipahami: personalisasi ini bukan berarti AI berjalan sendiri tanpa pengawasan. Item rencana belajar yang ditolak guru tidak akan pernah tampil ke siswa, baik di daftar sesi latihan maupun kalau siswa mencoba mengakses langsung lewat tautan. Guru yang paling mengenal karakter kelasnya tetap punya kata akhir — kalau menurut guru rekomendasi AI kurang pas untuk situasi tertentu, guru bisa menyesuaikannya sebelum siswa melihat apa pun.
Ini penting terutama untuk kasus di mana data kuantitatif belum menangkap konteks kualitatif yang guru tahu dari interaksi langsung — misalnya siswa yang sebenarnya paham konsep tapi sering ceroboh membaca soal, bukan benar-benar lemah di kompetensinya.
Kompromi yang Realistis untuk Kelas Besar
Personalisasi penuh untuk tiap siswa tetap punya batas praktis — guru dengan kelas besar tidak realistis meninjau puluhan rencana belajar individual secara mendalam setiap minggu. Yang biasanya terjadi adalah guru meninjau secara sampling di awal, memastikan pola rekomendasinya masuk akal untuk profil kelasnya, lalu memantau lebih dekat untuk siswa dengan kasus yang tidak biasa.
Bagi siswa yang tadinya mengeluh soal latihannya tidak relevan, perubahan yang terasa biasanya sederhana tapi berarti: latihan yang dikerjakan terasa memang menyasar kelemahannya sendiri, bukan kelemahan rata-rata kelas yang belum tentu sama dengan kelemahannya.
Dua Siswa, Dua Sesi Latihan yang Berbeda
Siswa yang mengeluh di awal artikel duduk sebangku dengan temannya yang justru lemah di aljabar. Minggu itu, keduanya membuka aplikasi di jam yang sama untuk mengerjakan sesi latihan mingguan. Siswa pertama mendapat sesi berisi delapan soal cerita pecahan dan dua soal aljabar tingkat lanjut sebagai penguatan — bukan pengulangan dasar. Siswa kedua mendapat sesi berisi tujuh soal aljabar dasar dan tiga soal topik lain yang datanya menunjukkan mulai melemah. Guru yang sama, kurikulum minggu yang sama, tapi dua paket latihan yang komposisinya jauh berbeda karena memang dibangun dari data masing-masing, bukan dari jadwal kurikulum kelas secara umum.
Bagi siswa pertama, ini menjawab keluhannya secara langsung: dia tidak lagi merasa waktunya terbuang mengerjakan soal yang sudah dikuasai. Bagi siswa kedua, ini juga berarti dia mendapat porsi latihan aljabar yang lebih besar dari yang akan dia dapat kalau mengandalkan paket seragam yang sudah bergerak ke topik lain sesuai jadwal umum kelas.
Ketika Siswa Justru Ingin Latihan yang Sama dengan Teman Sekelas
Menariknya, tidak semua siswa senang dengan personalisasi ini di awal. Sebagian siswa — terutama yang kompetitif — merasa tidak nyaman ketika menyadari soal latihannya berbeda dari teman sebangkunya, khawatir ini berarti dia dianggap "lebih lemah". Guru perlu menjelaskan bahwa perbedaan paket latihan bukan label kemampuan, tapi cerminan kebutuhan yang memang berbeda di titik waktu tertentu — dan bahwa komposisi itu akan terus berubah mengikuti data terbaru, bukan status permanen yang menempel ke satu siswa selamanya.

Tim Produk Lesan
Product Team
Tim yang membangun dan merawat Lesan — infrastruktur pembelajaran bertenaga AI untuk bimbel, sekolah, dan lembaga pelatihan.