Kenapa Resistensi Guru terhadap Sistem Baru Biasanya Bukan Soal Teknologi
Tim Produk Lesan
26 November 2026
Ketika sebuah institusi mengeluh gurunya "susah diajak berubah", asumsi pertama yang sering muncul adalah masalah kemampuan teknis — guru dianggap gaptek, tidak terbiasa pakai aplikasi, atau terlalu tua untuk belajar hal baru. Asumsi ini sering keliru, dan kalau institusi terus memperlakukan resistensi sebagai masalah teknis, solusinya juga akan salah sasaran: pelatihan tambahan yang tidak menyentuh akar masalah sebenarnya.
Rasa Takut Kehilangan Kendali, Bukan Takut Teknologi
Sebagian besar guru sebenarnya sudah terbiasa dengan teknologi dalam kehidupan sehari-hari — WhatsApp, media sosial, aplikasi perbankan. Yang membuat mereka enggan dengan sistem assessment baru bukan aplikasinya secara teknis, tapi rasa kehilangan kendali atas proses yang selama ini sepenuhnya di tangan mereka.
Menilai siswa adalah bagian dari otoritas profesional guru. Ketika ada sistem — apalagi yang melibatkan AI — masuk ke proses ini, kekhawatiran yang muncul bukan "apakah saya bisa mengoperasikan aplikasinya", tapi "apakah keputusan saya masih dihargai, atau nanti nilai siswa ditentukan mesin tanpa saya sadari". Ini kekhawatiran yang masuk akal, dan institusi perlu menjawabnya secara eksplisit — bukan dengan meyakinkan guru bahwa aplikasinya mudah dipakai, tapi dengan menunjukkan bahwa keputusan akhir tetap ada di tangan mereka.
Beban Kerja Tambahan yang Tidak Terlihat oleh Manajemen
Alasan resistensi lain yang jarang diungkapkan terang-terangan adalah kekhawatiran soal beban kerja. Dari sudut pandang manajemen, sistem baru "menghemat waktu". Dari sudut pandang guru yang harus belajar alur baru di tengah jadwal mengajar yang sudah padat, minggu-minggu awal migrasi justru terasa seperti pekerjaan tambahan, bukan penghematan.
Kalau institusi tidak mengakui ini secara terbuka — misalnya dengan memberi waktu khusus untuk belajar sistem baru, bukan menuntut guru mempelajarinya di sela waktu istirahat — resistensi yang muncul sebenarnya wajar, bukan tanda guru tidak kooperatif.
Ketidakjelasan soal "Kenapa Harus Berubah"
Guru yang tidak pernah mendapat penjelasan jelas soal alasan institusi pindah sistem cenderung menganggap perubahan ini sebagai keputusan sepihak manajemen tanpa pertimbangan dampaknya di kelas. Ini berbeda dengan guru yang memahami masalah konkret yang coba diselesaikan — misalnya rekap manual yang memakan waktu berjam-jam, atau ketidakmampuan menjawab pertanyaan orang tua dengan data yang jelas.
Institusi yang menjelaskan "kenapa" sebelum menjelaskan "bagaimana" biasanya menghadapi resistensi jauh lebih kecil, karena guru merasa dilibatkan dalam alasan perubahan, bukan sekadar diberi tahu harus memakai alat baru.
Pengalaman Buruk dengan Sistem Sebelumnya
Institusi yang pernah mencoba sistem digital lain sebelumnya — yang gagal, rumit, atau ditinggalkan di tengah jalan — sering menghadapi resistensi lebih besar untuk sistem berikutnya, bahkan kalau sistem barunya jauh lebih baik. Guru yang pernah "capek belajar sistem yang akhirnya dibuang" wajar skeptis terhadap janji sistem baru yang terdengar sama.
Kalau ini yang terjadi di institusi Anda, akui secara terbuka bahwa pengalaman sebelumnya memang mengecewakan, dan jelaskan apa yang berbeda kali ini — baik dari sisi komitmen institusi maupun dari sisi bagaimana sistem baru dirancang untuk tidak mengambil alih keputusan guru.
Merayakan Kemajuan Kecil di Awal Transisi
Selain mengatasi akar penyebab resistensi, ada satu elemen yang sering terlewat dalam strategi change management: mengakui dan merayakan kemajuan kecil di fase awal, bukan hanya fokus pada masalah yang belum terselesaikan. Guru yang baru pertama kali berhasil menyelesaikan satu siklus penilaian penuh tanpa bantuan — meski butuh waktu lebih lama dari biasanya — sudah melewati tahap yang secara psikologis cukup berat: dari tidak yakin menjadi cukup yakin untuk mencoba sendiri.
Institusi yang hanya memantau metrik kecepatan dan akurasi tanpa pernah mengakui usaha adaptasi ini secara eksplisit kehilangan kesempatan membangun momentum positif. Pengakuan tidak perlu berlebihan atau formal — cukup pengakuan sederhana dari kepala sekolah atau koordinator di forum guru, menyebutkan bahwa beberapa guru sudah mulai lancar memakai fitur tertentu, membuat guru lain yang masih ragu merasa perubahan ini memang mungkin dicapai, bukan sesuatu yang hanya berhasil untuk segelintir orang tertentu.
Cara lain yang cukup efektif adalah meminta guru yang sudah lebih nyaman berbagi pengalaman mereka secara singkat di sesi rutin — bukan sebagai instruksi dari atas, tapi sebagai cerita dari sesama guru yang mengalami kesulitan serupa dan berhasil melewatinya. Cerita semacam ini sering lebih meyakinkan dibanding data statistik adopsi yang ditampilkan manajemen, karena datang dari orang yang benar-benar mengalami transisi yang sama.
Cara Merespons yang Lebih Tepat dari Sekadar "Latihan Lagi"
Kalau resistensi guru sebagian besar berakar dari kekhawatiran soal kendali, beban kerja, dan kejelasan alasan — bukan kemampuan teknis — maka solusinya juga harus menyasar hal yang sama:
- Tunjukkan secara konkret bagaimana keputusan guru tetap final dalam proses penilaian, terutama untuk esai dan tugas yang dinilai AI sebagai draft awal.
- Alokasikan waktu resmi untuk belajar sistem baru, bukan berharap guru menyisipkannya di sela jam kosong.
- Libatkan guru sejak awal dalam diskusi kenapa institusi pindah sistem, bukan hanya mengumumkan keputusan yang sudah final.
- Akui pengalaman buruk sebelumnya kalau memang ada, dan jelaskan perbedaannya secara jujur.
Resistensi guru terhadap sistem baru jarang benar-benar soal "tidak bisa pakai aplikasi". Institusi yang memperlakukannya sebagai masalah manusia — bukan masalah teknis — biasanya jauh lebih berhasil membawa timnya melewati masa transisi tanpa kehilangan kepercayaan guru di tengah jalan.

Tim Produk Lesan
Product Team
Tim yang membangun dan merawat Lesan — infrastruktur pembelajaran bertenaga AI untuk bimbel, sekolah, dan lembaga pelatihan.