Proctoring vs Human-in-the-Loop: Dua Pendekatan Berbeda untuk Integritas Ujian Online
Tim Produk Lesan
11 Oktober 2026
Menjaga integritas ujian online — memastikan siswa yang mengerjakan benar-benar dirinya sendiri, tanpa contekan atau bantuan tidak sah — adalah masalah nyata yang belum punya satu jawaban tunggal yang disepakati semua pihak. Dua pendekatan besar yang sering dibicarakan adalah proctoring dan human-in-the-loop. Keduanya punya filosofi dasar yang berbeda, dan penting dipahami sebagai dua pendekatan berbeda, bukan satu lebih "benar" dari yang lain secara mutlak.
Proctoring: Mengawasi Prosesnya Secara Langsung
Proctoring adalah pendekatan yang mengawasi siswa selama mengerjakan ujian — biasanya lewat webcam yang merekam wajah dan gerakan mata, mengunci layar agar tidak bisa membuka tab lain, atau bahkan meminta siswa memutar kamera untuk menunjukkan ruangan sekitar sebelum ujian dimulai. Tujuannya mencegah kecurangan secara real-time, saat kejadian berlangsung.
Kelebihan proctoring adalah pencegahan langsung — kalau sistemnya bekerja baik, ia bisa mendeteksi indikasi kecurangan saat itu juga. Tapi ada tradeoff yang sering diabaikan: butuh infrastruktur teknis yang berat (deteksi wajah, analisis video, kadang AI untuk mendeteksi gerakan mencurigakan), rentan terhadap alarm palsu yang membuat siswa jujur merasa dicurigai tanpa alasan, dan menimbulkan kekhawatiran privasi karena merekam ruang pribadi siswa di rumah. Untuk sebagian siswa, tekanan diawasi terus-menerus bahkan bisa menurunkan performa mereka, terlepas dari niat mereka jujur atau tidak.
Human-in-the-Loop: Kontrol di Titik-Titik Kritis, Bukan Sepanjang Waktu
Pendekatan human-in-the-loop bekerja dengan filosofi berbeda: alih-alih mengawasi setiap detik proses ujian, ia menempatkan kontrol manusia di titik-titik keputusan yang paling berisiko — terutama penilaian. Untuk soal objektif seperti pilihan ganda, integritas dijaga lewat struktur soal (misalnya pengacakan urutan soal dan pilihan jawaban). Untuk soal yang lebih rawan subjektif seperti esai, sistem tidak berusaha mendeteksi kecurangan lewat kamera, tapi memastikan setiap penilaian — baik dari AI maupun manual — melewati review guru sebelum menjadi nilai final.
Di Lesan, ini adalah pendekatan yang dipakai: kami tidak punya proctoring berbasis webcam atau pengawasan visual selama ujian berlangsung. Yang ada adalah kontrol di titik penilaian — AI membuat draft skor dan feedback untuk esai dan upload, tapi draft itu tidak pernah otomatis jadi nilai final tanpa guru meninjau dan mengirim secara sadar. Filosofinya bukan mencegah kecurangan lewat pengawasan visual, tapi memastikan hasil akhir yang sampai ke siswa selalu melalui pertimbangan manusia yang bertanggung jawab.
Kenapa Ini Penting Dijelaskan Secara Jujur
Perlu digarisbawahi: human-in-the-loop bukan pengganti proctoring, dan tidak menyelesaikan masalah yang sama. Kalau institusi Anda menghadapi risiko kecurangan tinggi dalam ujian berbobot besar — misalnya ujian masuk yang sangat kompetitif — dan butuh pencegahan real-time selama proses ujian berlangsung, itu kebutuhan yang lebih dijawab oleh proctoring, bukan human-in-the-loop semata.
Human-in-the-loop lebih relevan untuk institusi yang concern utamanya adalah keandalan dan akuntabilitas hasil penilaian — terutama untuk soal esai dan tugas berbasis file yang sulit dinilai otomatis secara adil — dibanding mengawasi apakah siswa membuka catatan tersembunyi saat ujian pilihan ganda.
Memilih Sesuai Kebutuhan, Bukan Sesuai Tren
Keduanya adalah alat untuk masalah yang berbeda, meski sama-sama dibicarakan di bawah payung "integritas ujian online". Sebelum memilih vendor berdasarkan klaim proctoring atau human-in-the-loop, tanyakan ke diri sendiri: risiko terbesar institusi Anda ada di mana — di proses siswa mengerjakan ujian, atau di keandalan hasil penilaian yang keluar setelahnya? Jawaban atas pertanyaan itu yang seharusnya menentukan pendekatan mana yang paling relevan untuk institusi Anda, bukan sekadar fitur mana yang terdengar lebih canggih di brosur vendor.
Apakah Keduanya Bisa Digabung?
Secara konsep, tidak ada yang menghalangi sebuah sistem memakai proctoring untuk mengawasi proses ujian sekaligus human-in-the-loop untuk memastikan penilaian esai tetap divalidasi manusia — keduanya menyasar risiko yang berbeda dan secara teori bisa saling melengkapi. Tapi menggabungkan keduanya berarti menambah kompleksitas teknis dan biaya yang signifikan, dan untuk banyak institusi bimbel, tingkat risiko kecurangan pada ujian latihan rutin atau tryout internal biasanya belum sebesar risiko pada ujian masuk berstandar nasional yang benar-benar kompetitif. Menimbang kebutuhan riil ini penting sebelum membayar lebih mahal untuk kapabilitas yang mungkin tidak benar-benar dibutuhkan skala institusi Anda.
Pertanyaan Jujur yang Perlu Ditanyakan ke Diri Sendiri
Sebelum mencari vendor dengan proctoring, ada baiknya institusi bertanya dulu: seberapa besar sebenarnya masalah kecurangan yang dialami selama ini? Untuk ujian latihan rutin dan tryout internal, di banyak bimbel, masalah yang lebih sering muncul justru bukan kecurangan saat mengerjakan, melainkan ketidakkonsistenan penilaian esai antar guru atau keterlambatan feedback yang membuat siswa kehilangan momentum belajar. Kalau itu masalah utamanya, human-in-the-loop pada proses penilaian akan memberi dampak yang lebih terasa dibanding investasi besar pada proctoring yang menyasar masalah berbeda. Sebaliknya, untuk ujian berbobot tinggi seperti seleksi masuk program unggulan, kebutuhan akan pengawasan proses yang lebih ketat memang lebih masuk akal dipertimbangkan, meski itu di luar cakupan yang ditawarkan Lesan saat ini.
Menjelaskan Pilihan Ini ke Orang Tua dan Siswa
Ketika institusi memilih pendekatan human-in-the-loop dibanding proctoring, ada baiknya ini dikomunikasikan secara jelas ke orang tua dan siswa, bukan dibiarkan jadi asumsi yang tidak dijelaskan. Menjelaskan bahwa integritas ujian dijaga lewat proses penilaian yang selalu divalidasi guru, bukan lewat pengawasan kamera selama ujian, membantu menghindari kesalahpahaman — terutama dari orang tua yang mungkin terbiasa dengan platform lain yang memakai proctoring dan menganggap itu standar baku yang harus ada di semua sistem ujian online.

Tim Produk Lesan
Product Team
Tim yang membangun dan merawat Lesan — infrastruktur pembelajaran bertenaga AI untuk bimbel, sekolah, dan lembaga pelatihan.