Kompetensi Berjenjang di Lesan: Cara Menyusun Struktur yang Tidak Bikin Guru Bingung
Tim Produk Lesan
7 September 2026
Sebelum admin bimbel atau sekolah mulai mengisi bank soal atau menyusun materi di Lesan, ada satu langkah yang sering dianggap remeh: menyusun struktur kompetensi. Padahal, struktur ini adalah fondasi yang menentukan apakah fitur pemetaan kelemahan siswa berbasis AI dan rencana belajar personal nantinya benar-benar berguna, atau justru jadi data yang tidak bisa dianalisis dengan baik. Artikel ini membahas cara menyusun struktur kompetensi berjenjang di Lesan secara praktis — seberapa dalam sebaiknya dibuat bertingkat, seberapa detail sub-kompetensi harus ditulis, dan kesalahan yang paling sering terjadi saat institusi baru pertama kali melakukan setup.
Kenapa Struktur Kompetensi Menjadi Fondasi
Di Lesan, kompetensi disusun sebagai pohon — kompetensi utama bisa punya sub-kompetensi di bawahnya. Setiap soal di bank soal, setiap materi di course, dan setiap skor hasil asesmen ditautkan ke satu atau lebih kompetensi ini. Tautan itulah yang jadi bahan baku analisis: ketika sistem memetakan kelemahan siswa atau menyusun draf rencana belajar, yang sebenarnya terjadi adalah agregasi skor per kompetensi, lalu guru meninjau hasilnya sebelum disetujui untuk siswa. Tanpa tagging kompetensi yang jelas, AI tidak punya apa pun untuk direkomendasikan — bukan karena AI-nya lemah, tapi karena tidak ada struktur data yang bisa dibaca.
Karena itu, urutan setup yang disarankan di Lesan dimulai dari kompetensi, baru bank soal dan course. Kalau urutan ini dibalik — misalnya admin buru-buru mengisi ratusan soal dulu baru memikirkan struktur kompetensi belakangan — hasilnya biasanya retag ulang massal yang memakan waktu jauh lebih lama dibanding kalau strukturnya dipikirkan matang di awal.
Dua Level Biasanya Cukup
Pertanyaan yang paling sering muncul dari admin yang baru setup: seberapa dalam pohon kompetensi ini boleh bercabang? Secara teknis, Lesan mendukung struktur hierarkis, tapi itu bukan berarti semakin dalam semakin baik. Untuk sebagian besar institusi, dua level — kompetensi utama dan satu lapis sub-kompetensi di bawahnya — sudah cukup. Contohnya, kompetensi utama "Aljabar" dengan sub-kompetensi seperti "Persamaan Linear", "Fungsi Kuadrat", dan "Sistem Persamaan".
Godaan untuk membuat empat atau lima level bertingkat biasanya muncul dari keinginan mendetailkan topik sampai ke butir yang sangat spesifik. Masalahnya, semakin dalam pohonnya, semakin sulit guru mengingat di level mana harus men-tag soal tertentu, dan semakin besar kemungkinan tag tersebar tidak konsisten antar guru. Laporan pemetaan kelemahan pun jadi pecah ke terlalu banyak kotak kecil sehingga sulit dibaca sebagai gambaran besar. Kalau memang ada kebutuhan mendetailkan sampai level yang sangat spesifik, pertimbangkan apakah itu benar-benar perlu jadi kompetensi terpisah, atau cukup jadi bagian dari deskripsi soal.
Seberapa Detail Sub-Kompetensi Harus Dibuat?
Aturan praktis yang bisa dipakai: sebuah sub-kompetensi sebaiknya cukup spesifik untuk memberi guru arahan konkret ("siswa ini lemah di Fungsi Kuadrat, bukan cuma lemah di Aljabar secara umum"), tapi tidak begitu sempit sampai butuh puluhan soal berbeda hanya untuk mengisi satu sub-kompetensi dengan data yang cukup. Sub-kompetensi yang terlalu sempit — misalnya dipecah sampai ke "Fungsi Kuadrat bentuk a lebih dari 1" — biasanya berakhir dengan hanya dua atau tiga soal tertaut, yang tidak cukup untuk pemetaan kelemahan yang andal secara statistik.
Sebaliknya, sub-kompetensi yang terlalu luas — misalnya "Matematika Dasar" sebagai satu-satunya sub-kompetensi untuk seluruh materi kelas 10 — membuat laporan kelemahan siswa tidak actionable. Guru hanya tahu siswa "lemah di Matematika Dasar" tanpa tahu bagian mana yang perlu diperbaiki. Titik keseimbangannya biasanya ada di level topik yang biasa dipakai guru sehari-hari saat membahas materi — bukan terlalu teoretis, bukan terlalu mendetail.
Contoh Penerapan di Bimbel UTBK
Sebagai gambaran, bimbel yang fokus UTBK bisa menyusun kompetensi utama berdasarkan subtes, dengan sub-kompetensi berdasarkan topik yang biasa dibahas di kelas:
- Penalaran Matematika: Aritmetika Sosial, Statistika Dasar, Peluang
- Literasi Bahasa Indonesia: Ide Pokok, Simpulan, Kaidah Kebahasaan
- Pengetahuan Kuantitatif: Aljabar, Geometri, Barisan dan Deret
Struktur seperti ini cukup untuk memberi guru pemetaan yang jelas per subtes sekaligus per topik, tanpa membuat guru harus menelusuri terlalu banyak cabang saat men-tag soal.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Setup Awal
- Membuat kompetensi baru untuk tiap variasi kecil soal, bukan untuk topik yang benar-benar berbeda
- Menyalin struktur kurikulum resmi apa adanya tanpa menyesuaikan ke granularitas yang dipakai guru sehari-hari
- Membiarkan beberapa guru membuat kompetensi sendiri-sendiri tanpa koordinasi, sehingga muncul nama yang mirip tapi berbeda ("Fungsi Kuadrat" vs "Persamaan Kuadrat")
- Menunda setup kompetensi dan mulai mengisi bank soal dulu, lalu kesulitan retag belakangan
Checklist Sebelum Lanjut ke Bank Soal dan Course
- Kompetensi utama sudah mencakup seluruh cakupan mata pelajaran atau subtes yang diajarkan
- Sub-kompetensi ditulis di level topik yang dipahami guru, bukan terlalu teoretis atau terlalu sempit
- Struktur sudah dicek oleh lebih dari satu guru senior untuk menghindari duplikasi penamaan
- Ada satu admin atau koordinator yang jadi penanggung jawab perubahan struktur ke depan, supaya tidak berubah-ubah tanpa koordinasi
Struktur kompetensi memang terasa seperti pekerjaan administratif di awal, tapi ini investasi yang menentukan kualitas seluruh fitur analitik di Lesan ke depannya — dari pemetaan kelemahan sampai rencana belajar yang disusun AI dan ditinjau guru. Meluangkan waktu satu atau dua sesi diskusi tim di awal jauh lebih murah dibanding menata ulang ratusan soal dan materi yang sudah telanjur tertaut ke struktur yang keliru.

Tim Produk Lesan
Product Team
Tim yang membangun dan merawat Lesan — infrastruktur pembelajaran bertenaga AI untuk bimbel, sekolah, dan lembaga pelatihan.