AI & Pendidikan

Guru Belum Siap Pakai AI? Ini Realitanya di Sekolah Indonesia

Tim Produk Lesan

Tim Produk Lesan

27 Agustus 2026

Ketika sebuah institusi memutuskan memakai produk berbasis AI untuk assessment atau penilaian, ada satu asumsi yang sering luput dari perhatian: bahwa guru sudah tahu cara memakainya secara pedagogis. Kenyataannya, di banyak sekolah dan bimbel di Indonesia, itu asumsi yang terlalu optimis.

Ini bukan soal menyalahkan guru. Pelatihan formal tentang bagaimana memakai AI sebagai mitra dalam proses penilaian dan umpan balik masih jarang tersedia secara merata, terutama di luar kota-kota besar. Kalau institusi tidak mengakui kesenjangan ini secara jujur, adopsi AI justru berisiko gagal di tahap paling awal — bukan karena teknologinya buruk, tapi karena orang yang harus memakainya tidak dipersiapkan.

AI Sering Dikenal Guru Hanya sebagai "Pembuat Soal"

Kalau ditanya, banyak guru sudah pernah memakai AI generatif — untuk membuat soal latihan, merangkum materi, atau menyusun RPP lebih cepat. Itu penggunaan yang wajar dan berguna. Tapi itu jauh berbeda dari memakai AI sebagai alat bantu dalam proses penilaian: membaca draf feedback yang disusun AI atas jawaban esai siswa, menilai apakah draf itu akurat, lalu menyunting atau menolaknya sebelum dikirim ke siswa.

Kemampuan kedua ini menuntut sesuatu yang berbeda: bukan sekadar tahu cara memberi perintah ke AI, tapi tahu cara mengevaluasi output AI secara kritis — mengenali kapan draf itu masuk akal, kapan terlalu generik, dan kapan salah total. Ini keterampilan yang jarang diajarkan, karena sebagian besar pelatihan teknologi untuk guru masih berhenti di level "cara memakai fitur", bukan "cara menilai hasil AI dengan tanggung jawab profesional".

Kenapa Kesenjangan Ini Wajar, Bukan Aib

Penting untuk tidak memperlakukan ini sebagai kegagalan guru secara individu. AI berbasis penilaian pendidikan adalah kategori yang relatif baru, bahkan secara global. Sekolah dan bimbel di Indonesia menghadapi tantangan tambahan: beban kerja guru yang sudah tinggi, keterbatasan waktu untuk pelatihan di luar jam mengajar, dan variasi akses terhadap perangkat maupun koneksi internet yang stabil antar daerah.

Kondisi ini membuat pendekatan "luncurkan semua fitur AI sekaligus dan berharap guru menyesuaikan diri" hampir pasti akan menemui resistensi, atau lebih buruk, guru memakai fitur itu secara asal karena tidak punya waktu memahaminya dengan benar. Kalau itu terjadi, risiko yang muncul justru menambah masalah baru, bukan menyelesaikan yang lama.

Titik Awal yang Realistis untuk Institusi

Mulai dari Satu Alur Kerja, Bukan Rombak Total

Daripada memaksakan adopsi AI di semua aspek sekaligus — penilaian, materi, rekomendasi belajar, komunikasi orang tua — institusi lebih baik memilih satu alur kerja spesifik untuk dimulai. Misalnya: guru meninjau draf umpan balik esai yang disusun AI sebelum dikirim ke siswa. Satu alur kerja yang jelas, dengan batasan yang jelas pula, jauh lebih mudah dipelajari dan dievaluasi daripada perubahan menyeluruh dalam waktu singkat.

Setelah alur kerja itu berjalan cukup lama dan guru merasa nyaman, institusi baru bisa mempertimbangkan memperluas ke alur kerja lain. Pendekatan bertahap ini juga memberi ruang untuk mengumpulkan masukan nyata dari guru — bukan asumsi dari level manajemen tentang apa yang guru butuhkan.

Libatkan Guru dalam Menentukan Kriteria Persetujuan

Salah satu kesalahan umum adalah menyerahkan definisi "AI sudah benar" sepenuhnya ke tim teknis atau vendor. Guru yang sehari-hari menilai siswa punya intuisi tentang standar mana yang masuk akal untuk kelas mereka — dan intuisi itu perlu jadi bagian dari kriteria yang dipakai untuk menilai apakah draf AI layak disetujui, direvisi, atau ditolak. Melibatkan guru di tahap ini juga membuat mereka merasa memiliki proses, bukan sekadar menerima alat dari atas.

Perlakukan Output AI sebagai Draf, Bukan Kotak Hitam

Guru akan jauh lebih percaya diri memakai AI kalau mereka bisa melihat dan mengubah hasilnya, bukan hanya menerima keputusan jadi. Produk yang menampilkan alasan di balik sebuah draf feedback atau rekomendasi — dan mengizinkan guru menyunting sebelum dikirim — jauh lebih mudah diterima dibanding sistem yang bekerja secara tertutup. Kalau guru merasa AI "mengambil alih" tanpa penjelasan, penolakan terhadap teknologi itu sendiri jadi wajar.

Pelatihan yang Realistis, Bukan Sekadar Sesi Sekali Jalan

Pelatihan satu kali di awal semester biasanya tidak cukup. Guru butuh kesempatan mencoba, bertanya, dan melihat contoh nyata dari kasus di kelas mereka sendiri — bukan contoh generik dari materi pelatihan vendor. Pendampingan berkelanjutan, meski sederhana seperti sesi tanya-jawab rutin atau dokumentasi internal yang terus diperbarui, biasanya jauh lebih efektif daripada satu sesi pelatihan formal yang padat di awal.

  • Mulai kecil: satu alur kerja, satu jenis penilaian, sebelum diperluas.
  • Libatkan guru sejak awal dalam menyusun kriteria, bukan hanya sebagai pengguna akhir.
  • Jaga transparansi: guru harus bisa melihat dan menyunting hasil AI, bukan hanya menerimanya.
  • Sediakan pendampingan berkelanjutan, bukan pelatihan satu kali yang cepat dilupakan.

Peran Kepala Sekolah dan Pemilik Bimbel

Adopsi AI yang berhasil biasanya bukan inisiatif yang datang dari guru sendirian, melainkan didukung secara aktif oleh pimpinan institusi. Kepala sekolah atau pemilik bimbel yang ikut mencoba alur kerja baru itu sendiri — bukan hanya menugaskan guru memakainya — biasanya lebih memahami di mana letak kesulitan nyata di lapangan, dan lebih kredibel saat meminta guru untuk mencoba sesuatu yang baru.

Dukungan pimpinan juga penting dalam hal yang lebih praktis: memberi waktu khusus untuk guru belajar, bukan mengharapkan mereka mempelajari alat baru di sela-sela jam mengajar yang sudah padat. Tanpa alokasi waktu yang jelas, niat baik untuk melatih guru sering kalah oleh tuntutan operasional harian yang lebih mendesak.

Penutup

Kesiapan guru memakai AI bukan sesuatu yang bisa diasumsikan ada begitu saja hanya karena sebuah produk sudah dibeli. Ini adalah proses yang perlu dirancang sendiri oleh institusi — dimulai dari alur kerja kecil, dibangun dengan pelatihan yang berkelanjutan, dan dijaga dengan sistem yang membuat guru tetap merasa memegang kendali, bukan diambil alih oleh teknologi yang belum mereka pahami sepenuhnya.

Tim Produk Lesan

Tim Produk Lesan

Product Team

Tim yang membangun dan merawat Lesan — infrastruktur pembelajaran bertenaga AI untuk bimbel, sekolah, dan lembaga pelatihan.