AI & Pendidikan

AI Bisa Menilai Esai, tapi Siapa yang Bertanggung Jawab Kalau Salah?

Tim Produk Lesan

Tim Produk Lesan

28 Agustus 2026

Bayangkan skenario ini: seorang siswa mengerjakan esai tryout, sistem berbasis AI memberi skor, skor itu masuk ke rapor tanpa ada guru yang sempat meninjau ulang. Beberapa minggu kemudian, ternyata skor itu keliru — mungkin AI salah menafsirkan argumen siswa, atau menilai terlalu ketat dibanding standar kelas. Pertanyaannya: siapa yang bertanggung jawab atas kesalahan itu?

Ini bukan pertanyaan hipotetis yang mengada-ada. Semakin banyak institusi memakai AI untuk mempercepat penilaian esai, semakin penting pertanyaan akuntabilitas ini dijawab sejak awal — bukan setelah insiden terjadi.

Kenapa Pertanyaan Ini Sering Diabaikan

Ketika sebuah produk AI dipasarkan dengan penekanan pada kecepatan — "koreksi esai jadi lebih cepat", "hemat waktu guru berjam-jam" — pertanyaan tentang akuntabilitas sering tenggelam di balik janji efisiensi. Padahal, kecepatan tanpa mekanisme tanggung jawab yang jelas adalah pertukaran yang berisiko, terutama untuk sesuatu yang berdampak langsung pada rekam jejak akademik siswa.

Skor esai bukan angka yang berdiri sendiri. Ia memengaruhi keputusan berikutnya — apakah siswa dianggap perlu remedial, apakah masuk kelompok belajar tertentu, bahkan dalam beberapa kasus memengaruhi keputusan kelulusan atau penerimaan. Kesalahan kecil yang tidak terkoreksi bisa berdampak lebih jauh dari yang terlihat di permukaan.

Dampak Nyata kalau Kesalahan Tidak Tertangkap

Bagi Siswa

Siswa yang mendapat skor lebih rendah dari yang semestinya bisa kehilangan kesempatan — misalnya tidak masuk kelompok pengayaan yang sebenarnya layak ia ikuti, atau merasa kemampuannya lebih rendah dari kenyataan sehingga motivasinya turun. Sebaliknya, skor yang terlalu tinggi karena AI keliru menilai juga berisiko: siswa tidak mendapat intervensi yang sebenarnya ia butuhkan karena dianggap sudah menguasai materi.

Bagi Institusi

Kalau orang tua atau siswa mempertanyakan sebuah nilai dan institusi tidak bisa menjelaskan bagaimana nilai itu didapat — apalagi kalau ternyata tidak ada guru yang benar-benar memeriksanya — kredibilitas institusi yang dipertaruhkan, bukan cuma reputasi vendor AI-nya. Institusi yang memakai produk itulah yang akan dihubungi orang tua, bukan perusahaan teknologi di baliknya.

Kenapa Penilaian AI Harus Selalu Berstatus Draf

Argumen intinya sederhana: AI, seakurat apa pun ia diklaim, tetap bisa salah menafsirkan konteks yang manusia bisa tangkap — nuansa argumen, gaya penulisan yang tidak biasa tapi valid, atau konteks personal siswa yang memengaruhi caranya menjawab. Karena kesalahan itu mustahil dihilangkan sepenuhnya, satu-satunya cara bertanggung jawab menangani penilaian esai berbasis AI adalah memperlakukannya selalu sebagai draf yang perlu disetujui manusia — bukan skor final yang otomatis berlaku.

Ini bukan berarti AI tidak berguna dalam proses ini. AI tetap bisa mempercepat pekerjaan awal: membaca esai, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan argumen, menyusun draf skor beserta alasannya. Yang membedakan pendekatan bertanggung jawab dari yang berisiko adalah apa yang terjadi setelah draf itu tersusun — apakah berhenti dulu untuk ditinjau guru, atau langsung dianggap final.

Apa yang Perlu Diminta Institusi secara Operasional

Antrean Tinjauan, Bukan Publikasi Otomatis

Setiap skor atau feedback esai hasil AI seharusnya masuk ke antrean tinjauan — semacam daftar tugas untuk guru — sebelum bisa dilihat siswa. Ini memastikan ada langkah eksplisit di mana manusia menyatakan "saya sudah memeriksa ini dan setuju" sebelum sesuatu dianggap final.

Kemampuan Mengubah Setiap Skor AI

Guru harus bisa mengubah skor atau catatan dari AI untuk esai mana pun, kapan pun, tanpa proses berbelit. Kalau mengubah hasil AI ternyata sulit dilakukan secara teknis — misalnya harus lewat permintaan khusus ke tim IT — pada praktiknya guru akan cenderung membiarkan skor AI apa adanya, meski merasa ada yang kurang tepat.

Tidak Ada Perubahan Nilai yang "Diam-Diam"

Kalau sebuah nilai berubah — baik karena guru menyunting draf AI, atau karena ada koreksi di kemudian hari — perubahan itu semestinya tercatat dan bisa dilacak, bukan menimpa data sebelumnya secara diam-diam. Ini penting bukan hanya untuk institusi, tapi juga untuk melindungi guru sendiri: kalau ada pertanyaan di kemudian hari, ada catatan jelas tentang apa yang terjadi dan siapa yang memutuskan.

  • Skor AI masuk antrean tinjauan sebelum sampai ke siswa.
  • Guru bisa mengubah atau menolak setiap skor AI tanpa hambatan proses.
  • Setiap perubahan nilai tercatat, tidak ada yang berubah diam-diam.

Bagaimana Menjelaskan Ini ke Orang Tua

Institusi yang transparan soal bagaimana AI dipakai dalam penilaian esai biasanya lebih mudah menjawab pertanyaan orang tua dibanding yang mencoba menyembunyikan bahwa AI terlibat sama sekali. Menjelaskan bahwa AI membantu menyusun draf awal, tapi setiap nilai tetap ditinjau dan disetujui guru sebelum masuk rapor, adalah penjelasan yang jujur dan biasanya diterima baik — jauh lebih baik daripada orang tua mengetahui keterlibatan AI secara tidak sengaja dan merasa ada yang disembunyikan.

Sebaliknya, institusi yang tidak punya jawaban jelas soal siapa yang bertanggung jawab atas sebuah nilai — manusia atau sistem — akan kesulitan menjaga kepercayaan itu begitu ada pertanyaan kritis dari orang tua yang lebih teliti. Menyiapkan jawaban ini sebelum ditanya jauh lebih baik daripada menyusunnya secara reaktif setelah insiden terjadi.

Latihan sederhana yang bisa dilakukan institusi adalah menyiapkan satu paragraf penjelasan standar tentang bagaimana AI dipakai dalam proses penilaian esai, lengkap dengan penegasan bahwa guru selalu meninjau sebelum nilai final keluar. Paragraf ini bisa dicantumkan di buku panduan orang tua atau disampaikan saat pertemuan awal tahun ajaran, sehingga bukan informasi baru yang mengejutkan ketika suatu saat ditanyakan secara spesifik.

Penutup

Pertanyaan "siapa yang bertanggung jawab kalau AI salah menilai esai" tidak punya jawaban yang nyaman kalau institusi memakai AI sebagai pemberi skor final otomatis — karena pada akhirnya, institusi Anda yang harus menjawab ke orang tua, bukan vendor teknologinya. Jawaban yang lebih bertanggung jawab adalah memastikan tidak ada skor AI yang pernah benar-benar final tanpa disetujui guru terlebih dahulu. Itu bukan soal tidak percaya pada AI, tapi soal memahami bahwa tanggung jawab atas masa depan akademik siswa tidak bisa didelegasikan sepenuhnya ke sistem otomatis.

Tim Produk Lesan

Tim Produk Lesan

Product Team

Tim yang membangun dan merawat Lesan — infrastruktur pembelajaran bertenaga AI untuk bimbel, sekolah, dan lembaga pelatihan.